Mau cerita tentang sakitnya Mas Alif minggu ini. Pengen cerita, siapa tau ada bunda yang juga ngalamin hal yang sama.
Berawal dari hari Senin..hari itu Mas Al udah mulai batuk-batuk. Tapi batuk-batuknya aku kategorikan masih ringan, tanpa demam..ya udah, nggak dibawa ke dokter. Karena selama ini kalau batuk memang nggak pernah bawa ke dokter, home treatment aja, karena aku tau, berdasarkan beberapa literatur, kalau batuk itu mostly penyebabnya adalah virus dan sakit karena virus akan hilang dengan sendirinya tanpa obat-obatan apapun, kita hanya perlu membuat si anak merasa nyaman supaya si anak bisa istirahat sehingga daya tahan tubuhnya meningkat.
Blog ini isinya campur aduk. Kapan aja, Saya ingin nulis tentang apa aja, akan Saya tulis disini. Ada artikel bagus yang bisa jadi sumber nasehat buat kita, juga akan Saya posting disini. Sesuai namanya.. Mudah-mudahan blog ini bisa jadi inspirasi buat yang membacanya. Amin..
Tampilkan postingan dengan label |Keluarga|. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label |Keluarga|. Tampilkan semua postingan
Akibat Anak-Anak Berenang Terlalu Lama
Anak-anak paling senang berlama-lama di kolam renang. Anak baru ke luar dari kolam renang setelah bibirnya biru, mukanya pucat dan kedinginan akibat berjam-jam di dalam air. Tapi sebaiknya jangan biarkan anak-anak berenang terlalu lama. Mengapa?
Waspadai Obat Demam Dengan Dosis Yang Salah Pada Anak
Melihat anak demam, sejumlah orangtua begitu mudah memberikan satu sendok paracetamol dan ibuprofen secara bersamaan demi meredam panik. Padahal berdasar studi di Amerika Serikat, menggabungkan kedua obat itu justru akan memperlama penyembuhan dan berisiko terhadap kesehatan anak.
Dalam studi tersebut, sejumlah dokter spesialis anak yang terlibat mengungkap bahwa banyak orangtua memberi anak obat dengan dosis yang salah. Termasuk di dalamnya inisiatif menggabungkan kedua obat tersebut sebagai penurun demam.
Dalam studi tersebut, sejumlah dokter spesialis anak yang terlibat mengungkap bahwa banyak orangtua memberi anak obat dengan dosis yang salah. Termasuk di dalamnya inisiatif menggabungkan kedua obat tersebut sebagai penurun demam.
The American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa demam bukanlah penyakit, melainkan sebuah mekanisme tubuh dalam melawan infeksi bakteri atau virus. Memberikan obat dengan dosis yang salah justru akan memperkuat penyakit tersebut.
Sejumlah dokter memang menganjurkan pemberian paracetamol dan ibuprofen dengan dosis yang cukup untuk meminimalisasi efek samping demam pada anak. Namun, menurut aturan pengobatan The National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE), penggunaan obat harus mempertimbangkan tingkat keparahan demam.
Penggunaan kedua obat itu hanya dianjurkan ketika demam anak tidak turun setelah mengonsumsi salah satu dari kedua obat tersebut. Berdasarkan The British National Formulary, dokter tidak boleh memberikan resep lebih dari empat dosis paracetamol untuk periode 24 jam, dan tidak lebih dari empat dosis ibuprofen per hari.
Selama ini, kesalahan populer adalah memberi anak dosis obat untuk orang dewasa. Bukan hanya usia, orangtua juga wajib mempertimbangkan postur tubuh anak. Dosis harus diperkecil dari standar untuk anak dengan postur tubuh lebih kecil, meski usia sama.
Pemberian berlebihan paracetamol dapat mengakibatkan asma. Sedangkan ibuprofen yang berlebihan dapat mengakibatkan radang usus dan pendarahan. Karena itulah, orangtua harus lebih berhati-hati memberi obat pada anak. Jauhkan obat dari jangkauan anak sehingga terhindar dari efek samping pemberian obat yang melebihi dosis. (sydh/vn)
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
sumber : http://voa-islam.com/muslimah/health/2011/03/02/13574/waspadai-obat-demam-dengan-dosis-yang-salah-pada-anak/
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Kecerdasan Anak
Sering kan yaa..kita suka membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain ? Biasanya dalam hal "kepintaran". tau gak dear smart moms out there ?? Mulai sekarang..berhenti membandingkan yaa.. Kenapa ?
Menurut Ayah Edy, yang aku kutip dari majalah Mother & Baby edisi Oktober 2008 yaaa...memang sebenernya sangat alami kalau setiap anak berbeda. Menurut pandangan ilmu multiple intelligence yang dipelopori oleh Dr. Howard Gardner, sesungguhnya setiap anak itu terlahir cerdas, tidak ada yang bodoh. Hanya saja mereka cerdas pada bidang yang berbeda-beda. Bahkan, pada anak-anak yang telah dinyatakan terbatas (disable) sekalipun, masih bisa digali kecerdasannya. Contoh yang paling nyata adalah He Ah Lee, The Four Finger Pianist dari Korea. Ia hanya memiliki 4 jari karena mengalami sindrom jari capit kepiting dan mengalami down syndrome, namun berkat kegigihan Ibunya akhirnya ia mampu memainkan partitur musik klasik tersulit dan mendapatkan pengakuan dunia Internesional.
Selama ini masyarakat memandang anak hanya dalam bentuk hitam putih, kalau tidak pandai maka bodoh, kalau tidak bisa tenang maka hiperaktif. Padahal anak-anak kita itu sungguh berwarna-warni. Mereka semua adalah maha karya Tuhan. Jadi sebenernya yang kita perlu lakukan adalah membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri anak kita, dan bukannya memberikan label-label negatif karena ketidakmampuan kita menerjemahkan pesan-pesan Tuhan dalam diri mereka.
Menurut Howard Gardner, kekeliruan terbesar kita adalah menetapkan bahwa anak yang cerdas adalah anak-anak yang memiliki kemampuan lebih di bidang membaca, menulis, dan menghitung, dan lebih mengerucut pada pemahaman anak yang unggul dalam bidang hitungan atau eksakta. Oleh karena itu, setiap anak akan diukur berdasarkan barometer yang salah ini, sehingga tentu saja akan banyak anak kita yang masuk kategori tidak cerdas. Padahal, menurut penelitian saya dan para ahli syaraf (neuroscientist) selama lebih dari 20 tahun, ditemukan bahwa kecerdasan sungguh sangat beragam dan kemampuan berhitung itu (yang dianggap sebagai satu-satunya kecerdasan saat ini) hanyalah salah satu saja dari berbagai jenis kemampuan otak manusia yang disebut oleh Ayah Edy sebagai kecerdasan logis matematis.
Sesungguhnya otak kita memiliki berbagai kecerdasan yang luar biasa dan tidak hanya terbatas pada kemampuan eksakta. Bahkan sejarah telah mencatat bahwa kemampuan kecerdasan yang paling besar pada manusia adalah kecerdasan berbahasa, yakni pada saat otak manusia mampu menciptakan bahasa beserta simbol-simbolnya yang menyebabkan berkembang pesatnya peradaban manusia di bumi.
Sesungguhnya dalam setiap perilaku anak, merupakan petunjuk bagi kita tentang kecerdasan apa yang dimilikinya. Misalnya anak yang lebih tertarik membuat coret-coretan gambar daripada mengenali huruf, menunjukkan tanda-tanda awal munculnya kecerdasan desain ruang dan imajinasi gambar. Anak yang suka untuk bermain sendiri lebih menunjukkan bahwa ia sedang mengembangkan kemampuan imajinasi cerita dan sama sekali bukan menunjukkan ia tidak pandai.
Jadi..mulai hari ini, mari kita fokus untuk menggali jenis kecerdasan apa yang sesungguhnya tersimpan dalam diri anak-anak kita.
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Menurut Ayah Edy, yang aku kutip dari majalah Mother & Baby edisi Oktober 2008 yaaa...memang sebenernya sangat alami kalau setiap anak berbeda. Menurut pandangan ilmu multiple intelligence yang dipelopori oleh Dr. Howard Gardner, sesungguhnya setiap anak itu terlahir cerdas, tidak ada yang bodoh. Hanya saja mereka cerdas pada bidang yang berbeda-beda. Bahkan, pada anak-anak yang telah dinyatakan terbatas (disable) sekalipun, masih bisa digali kecerdasannya. Contoh yang paling nyata adalah He Ah Lee, The Four Finger Pianist dari Korea. Ia hanya memiliki 4 jari karena mengalami sindrom jari capit kepiting dan mengalami down syndrome, namun berkat kegigihan Ibunya akhirnya ia mampu memainkan partitur musik klasik tersulit dan mendapatkan pengakuan dunia Internesional.
Selama ini masyarakat memandang anak hanya dalam bentuk hitam putih, kalau tidak pandai maka bodoh, kalau tidak bisa tenang maka hiperaktif. Padahal anak-anak kita itu sungguh berwarna-warni. Mereka semua adalah maha karya Tuhan. Jadi sebenernya yang kita perlu lakukan adalah membaca tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam diri anak kita, dan bukannya memberikan label-label negatif karena ketidakmampuan kita menerjemahkan pesan-pesan Tuhan dalam diri mereka.
Menurut Howard Gardner, kekeliruan terbesar kita adalah menetapkan bahwa anak yang cerdas adalah anak-anak yang memiliki kemampuan lebih di bidang membaca, menulis, dan menghitung, dan lebih mengerucut pada pemahaman anak yang unggul dalam bidang hitungan atau eksakta. Oleh karena itu, setiap anak akan diukur berdasarkan barometer yang salah ini, sehingga tentu saja akan banyak anak kita yang masuk kategori tidak cerdas. Padahal, menurut penelitian saya dan para ahli syaraf (neuroscientist) selama lebih dari 20 tahun, ditemukan bahwa kecerdasan sungguh sangat beragam dan kemampuan berhitung itu (yang dianggap sebagai satu-satunya kecerdasan saat ini) hanyalah salah satu saja dari berbagai jenis kemampuan otak manusia yang disebut oleh Ayah Edy sebagai kecerdasan logis matematis.
Sesungguhnya otak kita memiliki berbagai kecerdasan yang luar biasa dan tidak hanya terbatas pada kemampuan eksakta. Bahkan sejarah telah mencatat bahwa kemampuan kecerdasan yang paling besar pada manusia adalah kecerdasan berbahasa, yakni pada saat otak manusia mampu menciptakan bahasa beserta simbol-simbolnya yang menyebabkan berkembang pesatnya peradaban manusia di bumi.
Sesungguhnya dalam setiap perilaku anak, merupakan petunjuk bagi kita tentang kecerdasan apa yang dimilikinya. Misalnya anak yang lebih tertarik membuat coret-coretan gambar daripada mengenali huruf, menunjukkan tanda-tanda awal munculnya kecerdasan desain ruang dan imajinasi gambar. Anak yang suka untuk bermain sendiri lebih menunjukkan bahwa ia sedang mengembangkan kemampuan imajinasi cerita dan sama sekali bukan menunjukkan ia tidak pandai.
Jadi..mulai hari ini, mari kita fokus untuk menggali jenis kecerdasan apa yang sesungguhnya tersimpan dalam diri anak-anak kita.
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Terlalu Dini Sekolah Bikin si Kecil Bosan?
Seorang ibu mengeluhkan anaknya yang kini duduk di kelas 1 SD mengaku sudah bosan sekolah. Ia khawatir penyebabnya karena dulu si kecil terlalu cepat disekolahkan. Benarkah terlalu dini sekolah bikin anak cepat bosan?
Oleh pemerintah, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sudah diakui sebagai salah satu cara mempersiapkan anak sebelum memasuki pendidikan yang lebih tinggi. Di tahun 80-an, orang tidak mengenal PAUD tapi langsung Taman Kanak-Kanak (TK).
Lantas apa hakikat PAUD bagi anak? Inti PAUD untuk anak-anak usia balita, ujar pakar pendidikan, Henny Supolo Sitepu, MA, adalah belajar dari bermain.
"Program ini bukan sekolah dalam pengertian umum tapi sungguh-sungguh kelompok bermain," ujarnya, Selasa (1/3/2011).
Di PAUD, anak bisa bermain dengan teman-teman sebayanya namun dengan kegiatan yang lebih diarahkan pada perkembangan kecerdasannya.
Perhatikan Isi Pelajaran
Seorang ibu bernama Dewi curhat tentang pengalaman 'pahitnya' dengan sebuah playgorup, tempat anaknya 'sekolah' dulu. Dewi awalnya tertarik memasukkan buah hatinya ke lembaga tersebut karena playgroup tersebut memiliki kurikulum gabungan antara Indonesia dengan Singapura.
Tetapi belakangan, ia baru tahu kalau ternyata ada sistem ujian di playgroup itu. "Mereka bilang suasananya seperti belajar biasa, tidak seperti ujian. Tapi kenyataannya si anak harus menyelesaikan semua tugas yang diberikan," ujarnya. Dewi menilai, muatan materi seperti itu terlalu berat untuk anak-anak usia tiga tahun.
Menurut Henny, itulah satu hal yang harus diperhatikan orangtua sebelum memulai pendidikan usia dini untuk anaknya. Orangtua, ujarnya, harus menyadari bahwa kegiatan belajar yang tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan si anak dapat memicu kebosanan. Memang, kadang kelompok bermain pun hanya sebatas penyebutan saja, sementara materi yang diberikan tidak mempertimbangkan kemampuan si anak pada usia tersebut.
Anak-anak juga biasanya mudah jenuh jika kegiatan belajar dibuat sangat rutin dan teratur, kata psikolog perkembangan anak dari Cikal Sehat, Alzena Masykouri, M.Psi. Atau, tambahnya, bisa juga jika ada paksaan yang melampaui kapasitasnya.
"Kalau kebosanan ini dikaitkan karena si kecil terlalu cepat disekolahkan rasanya tidak tepat," Henny menambahkan.
Banyak Sisi Positifnya
Terlepas dari itu, tutur Alzena, sebenarnya banyak aspek positif yang bisa diterima anak dengan bersekolah sejak dini. "Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang seringkali menjadi poin positif untuk anak yang ber-'sekolah' sejak usia dini," ujar psikolog yang akrab dipanggil Zena ini.
Pada usia dini atau sejak usia tiga tahun, anak sudah mulai diperkenalkan pada dasar-dasar belajar formal. Kata kuncinya adalah pengenalan melalui pembiasaan. Dan selama metode yang digunakan oleh sekolah tepat, proses pengenalan tersebut akan membawa dampak positif bagi anak.
Pendidikan yang sifatnya terstruktur dan rutin sebaiknya baru dimulai ketika anak masuk SD. Sikap formal dalam belajar, lanjut Zena, biasanya dicapai anak-anak pada usia delapan tahun. Pada masa ini tanggung jawab belajar sudah berkembang.
Agar Tak Bosan Sekolah
Telti Memilih 'Sekolah'
Cari tahu kegiatan belajar di masing-masing playgroup. Untuk usia tiga tahun, kegiatan belajar harus dibuat variatif dengan durasi maksimal dua jam mengingat rentang
perhatian mereka sedang berkembang. Kegiatannya pun, ujar Zena, lebih baik menekankan pada aspek eksploratif dan mengembangkan kemampuan diri.
Coba Homeschooling
"Dengan cara ini, orangtua melaksanakan pendidikan anaknya secara mandiri," tutur Zena. Dengan metode ini, materi belajar bisa diberikan lebih santai, melalui kegiatan sehari-hari si anak di rumah. Menurutnya lagi, metode homeschooling bisa menjadi salah satu jalan keluar untuk anak-anak yang tampak sudah bosan bersekolah.
Ciptakan Kesempatan Bermain
Orangtua sebaiknya tidak membebani anak dengan berbagai les ketika ia sudah mendapat banyak 'beban' dari sekolahnya. Saat anak merasa masih memiliki banyak kesempatan bermain, pasti ia tidak malas sekolah.
sumber : http://health.detik.com/read/2011/03/01/153434/1582176/1075/terlalu-dini-sekolah-bikin-si-kecil-bosan
Oleh pemerintah, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sudah diakui sebagai salah satu cara mempersiapkan anak sebelum memasuki pendidikan yang lebih tinggi. Di tahun 80-an, orang tidak mengenal PAUD tapi langsung Taman Kanak-Kanak (TK).
Lantas apa hakikat PAUD bagi anak? Inti PAUD untuk anak-anak usia balita, ujar pakar pendidikan, Henny Supolo Sitepu, MA, adalah belajar dari bermain.
"Program ini bukan sekolah dalam pengertian umum tapi sungguh-sungguh kelompok bermain," ujarnya, Selasa (1/3/2011).
Di PAUD, anak bisa bermain dengan teman-teman sebayanya namun dengan kegiatan yang lebih diarahkan pada perkembangan kecerdasannya.
Perhatikan Isi Pelajaran
Seorang ibu bernama Dewi curhat tentang pengalaman 'pahitnya' dengan sebuah playgorup, tempat anaknya 'sekolah' dulu. Dewi awalnya tertarik memasukkan buah hatinya ke lembaga tersebut karena playgroup tersebut memiliki kurikulum gabungan antara Indonesia dengan Singapura.
Tetapi belakangan, ia baru tahu kalau ternyata ada sistem ujian di playgroup itu. "Mereka bilang suasananya seperti belajar biasa, tidak seperti ujian. Tapi kenyataannya si anak harus menyelesaikan semua tugas yang diberikan," ujarnya. Dewi menilai, muatan materi seperti itu terlalu berat untuk anak-anak usia tiga tahun.
Menurut Henny, itulah satu hal yang harus diperhatikan orangtua sebelum memulai pendidikan usia dini untuk anaknya. Orangtua, ujarnya, harus menyadari bahwa kegiatan belajar yang tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan si anak dapat memicu kebosanan. Memang, kadang kelompok bermain pun hanya sebatas penyebutan saja, sementara materi yang diberikan tidak mempertimbangkan kemampuan si anak pada usia tersebut.
Anak-anak juga biasanya mudah jenuh jika kegiatan belajar dibuat sangat rutin dan teratur, kata psikolog perkembangan anak dari Cikal Sehat, Alzena Masykouri, M.Psi. Atau, tambahnya, bisa juga jika ada paksaan yang melampaui kapasitasnya.
"Kalau kebosanan ini dikaitkan karena si kecil terlalu cepat disekolahkan rasanya tidak tepat," Henny menambahkan.
Banyak Sisi Positifnya
Terlepas dari itu, tutur Alzena, sebenarnya banyak aspek positif yang bisa diterima anak dengan bersekolah sejak dini. "Sosialisasi dan kemandirian adalah aspek yang seringkali menjadi poin positif untuk anak yang ber-'sekolah' sejak usia dini," ujar psikolog yang akrab dipanggil Zena ini.
Pada usia dini atau sejak usia tiga tahun, anak sudah mulai diperkenalkan pada dasar-dasar belajar formal. Kata kuncinya adalah pengenalan melalui pembiasaan. Dan selama metode yang digunakan oleh sekolah tepat, proses pengenalan tersebut akan membawa dampak positif bagi anak.
Pendidikan yang sifatnya terstruktur dan rutin sebaiknya baru dimulai ketika anak masuk SD. Sikap formal dalam belajar, lanjut Zena, biasanya dicapai anak-anak pada usia delapan tahun. Pada masa ini tanggung jawab belajar sudah berkembang.
Agar Tak Bosan Sekolah
Telti Memilih 'Sekolah'
Cari tahu kegiatan belajar di masing-masing playgroup. Untuk usia tiga tahun, kegiatan belajar harus dibuat variatif dengan durasi maksimal dua jam mengingat rentang
perhatian mereka sedang berkembang. Kegiatannya pun, ujar Zena, lebih baik menekankan pada aspek eksploratif dan mengembangkan kemampuan diri.
Coba Homeschooling
"Dengan cara ini, orangtua melaksanakan pendidikan anaknya secara mandiri," tutur Zena. Dengan metode ini, materi belajar bisa diberikan lebih santai, melalui kegiatan sehari-hari si anak di rumah. Menurutnya lagi, metode homeschooling bisa menjadi salah satu jalan keluar untuk anak-anak yang tampak sudah bosan bersekolah.
Ciptakan Kesempatan Bermain
Orangtua sebaiknya tidak membebani anak dengan berbagai les ketika ia sudah mendapat banyak 'beban' dari sekolahnya. Saat anak merasa masih memiliki banyak kesempatan bermain, pasti ia tidak malas sekolah.
sumber : http://health.detik.com/read/2011/03/01/153434/1582176/1075/terlalu-dini-sekolah-bikin-si-kecil-bosan
Tips Aktivitas untuk Menstimulasi Anak Prasekolah
Tak ada yang bisa menjamin anak prasekolah Anda bisa menjadi seseorang yang jenius. Tetapi, aktivitas tertentu untuk anak usia 3-5 tahun bisa membantunya mengoptimalkan fungsi otaknya.
Hingga usia 2 tahun, otak bayi akan berkembang sangat pesat setiap harinya. Perkembangan selama 2 tahun pertama adalah perkembangan berbahasa serta motorik halus tercepat yang pernah ia alami. Namun, memasuki usia 3-5 tahun, perkembangan itu melambat dan cenderung stabil, tetapi otak bekerja dan membangun koneksi dengan bagian-bagian lainnya.
Di usia prasekolah, otak anak sedang belajar membangun kemampuan memecahkan masalah dan menggunakan bahasa untuk bernegosiasi. Begitu pun, mereka sedang belajar mengkoordinasikan tubuhnya, seperti cara menendang bola sambil mengukur ketepatan arahnya.
Michele Macias, MD, jurubicara American Academy of Pediatrics (AAP) mengatakan, "Di usia ini, anak-anak seharusnya berada di luar dan mengeksplorasi banyak hal, serta bersiap untuk tugas terpenting mereka selanjutnya, yakni sekolah."
Menurut Macias, stimulan otak terbaik bagi anak adalah waktu pribadi dengan orangtuanya. Meski di usia ini adalah waktu anak untuk belajar mandiri, tetapi keterikatan anak-orangtua masih ada. Ditambahkan lagi, pertukaran bahasa dan ide adalah pendorong perkembangan otak yang paling penting bagi anak ketimbang
menyuruh si anak beraktivitas yang lain. Aktivitas yang bisa Anda lakukan antara lain;
Membaca bersama
Membaca baik untuk memberi waktu berkualitas dengan anak, sekaligus menstimulasi otak anak. Menurut studi, membaca bersama anak bisa membantunya belajar "melek huruf" lebih cepat. Memperkaya kemampuan berbahasa dan diksi, serta memicu diskusi dengan orangtua yang mempercepat pemahaman. Pilihan buku bisa yang bersifat cerita, berhitung, ABC, mencocokkan, dan membagi.
Main pura-pura
Anak pra-sekolah memiliki imajinasi yang besar. Mereka akan sangat suka bermain seakan-akan mereka seorang puteri, pebalet, superhero, dan lainnya. Selain menyenangkan, bermain pura-pura juga bisa mengajak mereka bereksperimen dengan permainan peran.
Permainan imajinatif juga membangun kemampuannya berbahasa, karena hal ini menyangkut berpikir mengenai kata-kata dan mengulangi apa yang mereka dengar.
Jadi, ketika ia mengajak Anda bermain pura-pura, jangan langsung menolaknya.
Belajar berteman
Belajar aturan bermain dengan banyak bermain dengan teman akan mendorong kecerdasan sosialnya. Tambahan lagi, berteman juga membantunya melatih kendali diri, berbagi, dan bernegosiasi. Belajar bersosialisasi membuat anak membangun belajar tentang stereotip anak lain. Misal, kesukaan anak yang lebih tua atau anak yang lebih muda, serta perbedaan tingkah anak laki-laki dari anak perempuan.
Anak yang tidak belajar bersosialisasi bisa jadi anak yang sangat pandai dan ber-IQ tinggi, tetapi akan sulit sukses dalam hal kesehatan, tugas sekolah, bahkan pekerjaan.
Games dan puzzle
Permainan tradisional zaman dulu, seperti Petak Umpet, Petak Jongkok, dan lainnya membantu anak belajar kemampuan sosial anak. Anak akan belajar mengambil giliran, serta belajar menerima frustasi karena tidak menang. Mengingat aturan juga melatih otot memori. Permaianan fisik membantu mengasah koordinasi motorik anak.
Sementara permainan semacam puzzle memberinya latihan mencari cara lewat permainan nonverbal dan kemampuan bervisual. Stimulasi ini akan melatih otaknya.
Belajar bahasa asing
Riset menunjukkan, anak usia ini bisa belajar berbahasa lebih cepat ketimbang saat mereka sudah mencapai usia dewasa. Belajar bahasa asing juga memberinya stimulasi pada area otak yang bertanggung jawab untuk menyimpan, memperkirakan, dan mengucapkan kata-kata.
Bahasa kedua juga membantu mengembangkan kemampuan verbal dan spasial, serta diksi dan kemampuan membaca. Ditambah lagi, ia akan belajar mengenai perbedaan kultural.
Kelas khusus usianya
Kelas olahraga untuk anak seusianya bisa membantu membentuk struktur, menciptakan setting sosial, dan membangun kemampuan motorik serta keseimbangan. Serupa dengan itu, musik dan kursus kesenian bisa mendorong kecerdasan artistik atau musikal. Namun, tak ada bukti yang mengatakan bahwa kelas-kelas semacam ini bisa menciptakan anak jenius.
Ikut bermain
Ingatlah akan nilai keuntungan dari bermain bebas. Terlibatlah dalam waktu bermain mereka, tetapi jangan memaksakan kendali Anda, karena justru bisa menghilangkan keuntungannya, khususnya dalam membangun kreativitas, kepemimpinan, dan berkelompok.
Macias juga mengingatkan pentingnya untuk tidak memaksakan si kecil belajar terlalu banyak atau ikut dalam aktivitas atau kelas terlalu banyak, karena bisa membuatnya kelelahan atau frustasi. Apa pun kelas yang Anda pilih, pastikan si kecil menyukainya dan tidak merasa tertekan. Biarkan si kecil menikmati masa kecilnya.
Sumber : http://sambilminumt eh.blogspot. com/2010/ 12/aktivitas- yang-menstimulas i-otak-anak. html
Hingga usia 2 tahun, otak bayi akan berkembang sangat pesat setiap harinya. Perkembangan selama 2 tahun pertama adalah perkembangan berbahasa serta motorik halus tercepat yang pernah ia alami. Namun, memasuki usia 3-5 tahun, perkembangan itu melambat dan cenderung stabil, tetapi otak bekerja dan membangun koneksi dengan bagian-bagian lainnya.
Di usia prasekolah, otak anak sedang belajar membangun kemampuan memecahkan masalah dan menggunakan bahasa untuk bernegosiasi. Begitu pun, mereka sedang belajar mengkoordinasikan tubuhnya, seperti cara menendang bola sambil mengukur ketepatan arahnya.
Michele Macias, MD, jurubicara American Academy of Pediatrics (AAP) mengatakan, "Di usia ini, anak-anak seharusnya berada di luar dan mengeksplorasi banyak hal, serta bersiap untuk tugas terpenting mereka selanjutnya, yakni sekolah."
Menurut Macias, stimulan otak terbaik bagi anak adalah waktu pribadi dengan orangtuanya. Meski di usia ini adalah waktu anak untuk belajar mandiri, tetapi keterikatan anak-orangtua masih ada. Ditambahkan lagi, pertukaran bahasa dan ide adalah pendorong perkembangan otak yang paling penting bagi anak ketimbang
menyuruh si anak beraktivitas yang lain. Aktivitas yang bisa Anda lakukan antara lain;
Membaca bersama
Membaca baik untuk memberi waktu berkualitas dengan anak, sekaligus menstimulasi otak anak. Menurut studi, membaca bersama anak bisa membantunya belajar "melek huruf" lebih cepat. Memperkaya kemampuan berbahasa dan diksi, serta memicu diskusi dengan orangtua yang mempercepat pemahaman. Pilihan buku bisa yang bersifat cerita, berhitung, ABC, mencocokkan, dan membagi.
Main pura-pura
Anak pra-sekolah memiliki imajinasi yang besar. Mereka akan sangat suka bermain seakan-akan mereka seorang puteri, pebalet, superhero, dan lainnya. Selain menyenangkan, bermain pura-pura juga bisa mengajak mereka bereksperimen dengan permainan peran.
Permainan imajinatif juga membangun kemampuannya berbahasa, karena hal ini menyangkut berpikir mengenai kata-kata dan mengulangi apa yang mereka dengar.
Jadi, ketika ia mengajak Anda bermain pura-pura, jangan langsung menolaknya.
Belajar berteman
Belajar aturan bermain dengan banyak bermain dengan teman akan mendorong kecerdasan sosialnya. Tambahan lagi, berteman juga membantunya melatih kendali diri, berbagi, dan bernegosiasi. Belajar bersosialisasi membuat anak membangun belajar tentang stereotip anak lain. Misal, kesukaan anak yang lebih tua atau anak yang lebih muda, serta perbedaan tingkah anak laki-laki dari anak perempuan.
Anak yang tidak belajar bersosialisasi bisa jadi anak yang sangat pandai dan ber-IQ tinggi, tetapi akan sulit sukses dalam hal kesehatan, tugas sekolah, bahkan pekerjaan.
Games dan puzzle
Permainan tradisional zaman dulu, seperti Petak Umpet, Petak Jongkok, dan lainnya membantu anak belajar kemampuan sosial anak. Anak akan belajar mengambil giliran, serta belajar menerima frustasi karena tidak menang. Mengingat aturan juga melatih otot memori. Permaianan fisik membantu mengasah koordinasi motorik anak.
Sementara permainan semacam puzzle memberinya latihan mencari cara lewat permainan nonverbal dan kemampuan bervisual. Stimulasi ini akan melatih otaknya.
Belajar bahasa asing
Riset menunjukkan, anak usia ini bisa belajar berbahasa lebih cepat ketimbang saat mereka sudah mencapai usia dewasa. Belajar bahasa asing juga memberinya stimulasi pada area otak yang bertanggung jawab untuk menyimpan, memperkirakan, dan mengucapkan kata-kata.
Bahasa kedua juga membantu mengembangkan kemampuan verbal dan spasial, serta diksi dan kemampuan membaca. Ditambah lagi, ia akan belajar mengenai perbedaan kultural.
Kelas khusus usianya
Kelas olahraga untuk anak seusianya bisa membantu membentuk struktur, menciptakan setting sosial, dan membangun kemampuan motorik serta keseimbangan. Serupa dengan itu, musik dan kursus kesenian bisa mendorong kecerdasan artistik atau musikal. Namun, tak ada bukti yang mengatakan bahwa kelas-kelas semacam ini bisa menciptakan anak jenius.
Ikut bermain
Ingatlah akan nilai keuntungan dari bermain bebas. Terlibatlah dalam waktu bermain mereka, tetapi jangan memaksakan kendali Anda, karena justru bisa menghilangkan keuntungannya, khususnya dalam membangun kreativitas, kepemimpinan, dan berkelompok.
Macias juga mengingatkan pentingnya untuk tidak memaksakan si kecil belajar terlalu banyak atau ikut dalam aktivitas atau kelas terlalu banyak, karena bisa membuatnya kelelahan atau frustasi. Apa pun kelas yang Anda pilih, pastikan si kecil menyukainya dan tidak merasa tertekan. Biarkan si kecil menikmati masa kecilnya.
Sumber : http://sambilminumt eh.blogspot. com/2010/ 12/aktivitas- yang-menstimulas i-otak-anak. html
Bunda Bekerja di Rumah
Bekerja dari rumah adalah satu-satunya pilihanku saat ini. Hatiku menolak untuk kembali bekerja di kantor karena ingin sepenuhnya mengasuh dan mendidik Mas Alif, titipanNya kepada aku dan suami, tapi aku sendiri juga nggak mau kehilangan income pribadiku sepenuhnya.
Aku pernah ambil proyek pembuatan buku tentang Computer Security yang aku kerjakan hanya dari rumah, di depan laptop, bersama dengan koneksi internet yang menemani. Tapi namanya proyek, ya kalau udah selesai, ya berarti selesai tugasnya.
Dan saat ini, aku menjalankan sebuah bisnis online, juga hanya dari rumah, di depan laptop, ditemani koneksi internet. Juga sesekali keluar rumah untuk ketemu dengan teman-teman ataupun untuk menghadiri training untuk mengasah skill.
Insya Allah bisnis online ini mulai menghasilkan. Yang aku suka adalah, aku tau tujuanku di bisnis online ini, aku tau cara untuk menuju ke sana, dan udah banyak orang yang terbukti berhasil di bisnis online yang aku ikuti.
Tapi yang namanya ibu yang bekerja dari rumah, pastilah harus mengeluarkan effort yang cukup untuk bisa seimbangkan antara keluarga dan bisnis. Pagi, siang, sore, malam, aku bersama Mas Alif. Kecuali saat Mas Alif tidur, aku bisa kerja. Tapi saat Mas Alif terbangun, pasti aku bersamanya.
Setelah Mas Alif tidur malam, baru aku bisa lanjutkan kerja. Ngoyo?? Nggak!!
Lebih baik aku kerja keras dari sekarang untuk mencapai keinginanku.. Apalagi, harga kebutuhan pangan juga sekolah makin meroket kaan?? Apa masih mau bersantai??
Tidur lebih malam, bangun lebih pagi.. Capek?? Oh..pasti!! Itu harga yang harus aku bayar agar aku Insya Allah bisa santai-santai nantinya menikmati hasil kerja kerasku..
Kalau dulu.. aku tinggal minta ke orang tua kalau mau beli sesuatu..sekarang..anakku yang nanti akan minta ke aku..
Kalau dulu.. aku masih bisa santai karena masih ada orang tua yang support semua kebutuhanku..sekarang..aku yang harus support kebutuhan anakku..
Kalau dulu..aku belum begitu ngerti tentang pentingnya kerja keras..pentingnya punya penghasilan karena orang tuaku yang sediakan semuanya untukku dan aku tinggal minta.. sekarang.. ??
Menjadi ibu rumah tangga, juga punya kesempatan yang sama untuk punya penghasilan sama atau bahkan jaauuuhhh melebihi para ibu yang bekerja di kantor.. Itu hanya mengenai pilihan..Mau ikut denganku ? Isi Form Pendaftarannya di link ini yaa.. http://www.dbc-network.com/daftar.php?id=diani122
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Kisah Nyata : Penyesalan Seorang Ibu
Dari sebuah milis..untuk para ibu..tolong dibaca sampai habis lalu renungkan yaa.. Cerita ini adalah kisah nyata..
-------------------------------
Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.
Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.
Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.
Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami..Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada putri kami.
Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.
Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal..
Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.
Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu). Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya
itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.
Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka.
Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan
kantor.
Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya.
Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan. Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? .
Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.
Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.
Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya. Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.
Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga. Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami..
Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi , setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.
Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.
Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! Menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis !
Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah.
Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren..
Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya. Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama..
Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya .
Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta . Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.
Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah. Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..Ya Tuhan , Maya kangen banget sama bik Inah"
Bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ?
Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.
Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.
Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.
Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.
Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya. Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya.
Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.
Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya. Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.
Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.
Dan disetiap berdoa saya selalu memohon ;
"YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu". Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
-------------------------------
Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.
Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.
Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.
Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami..Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada putri kami.
Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.
Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal..
Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.
Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu). Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya
itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.
Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka. Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka.
Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan
kantor.
Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya.
Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan. Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi? .
Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.
Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.
Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya. Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.
Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga. Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami..
Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi , setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit.
Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.
Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! Menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis !
Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah.
Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren..
Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya. Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama..
Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya .
Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta . Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.
Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah. Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..Ya Tuhan , Maya kangen banget sama bik Inah"
Bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ?
Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.
Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.
Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.
Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.
Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya. Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya.
Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.
Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya. Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya. Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.
Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.
Dan disetiap berdoa saya selalu memohon ;
"YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu". Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Toilet Training
Kali ini aku mau cerita tentang toilet trainingnya Mas Alif..
Sekarang ini Mas Alif gak kerasa umurnya hampir 21 bulan..dan udah dimulai toilet trainingnya sejak umurnya 20 bulan. Telat?? Menurutku nggak..
Dari awal memang aku nggak pernah tau, kapan sih waktu yang tepat untuk mulai toilet training? Ada yang bilang kalau udah bisa duduk, biasakan ajarin ke toilet..ada juga yang bilang, kalau udah umur 10 bulan..atau 1 tahun.. tapi saat aku cari referensinya di buku "The Baby Book"nya dr.Sears (buku itu selalu jadi acuan buatku..gimana nggak..yang nulis aja dokter anak profesional, istrinya perawat, anaknya 8, dan semua yang dia tulis di buku itu adalah hasil "penelitian" yang diterapkan ke 8 anak-anaknya. maknyuuussssss... Insya Allah hasilnya memuaskan. ;P), di buku itu nggak disebutin secara pasti berapa umurnya saat anak mulai belajar toilet training.
Beliau hanya sebutkan sejumlah tanda-tanda (bukankah kita harus bisa membaca tanda-tanda dari alam?? :-P) kapan anak siap dilatih toilet training..
Jadi waktu Mas Alif umur 10 bulan, aku udah siap beli bebek-bebekan yg buat toilet training..tp akhirnya..sampai sekarang bebek itu malah jadi mainan. hehehehee...
Waktu umur 10 bulan, aku udah sempet toilet training Mas Alif. Berdasarkan informasi dari temen-temen, katanya tiap 15 - 30 menit, bawa ke toilet biar pipis..Dicoba ddoooonnnggg.... Hiiyyaaahhh..ternyata oh ternyata...baaarrruuuuuuuuuu juga beberapa menit sebelumnya pipis, udah pipis lagi...gak sampe 15 menit. Ada juga udah tiap 15-30 menit dibawa ke kamar mandi supaya pipis, malah gak pipis...
Aaaarrggghhhh..daripada aku nya stress karena kecolongan terus (wkwkwkwkkk..Bunda dikerjain Mas Alif.), aku terusin pakein pampers aja Mas Alifnya. hehehheheee... --> bukan ibu pemalas yaaa.. tapi ibu yang cerdik..cerdik untuk nggak lagi dikerjain Mas Alif. hahahahaa..
Sambil itu..aku teruusss..bertanya-tanya dalam hati, kapan ya waktu yang tepat buat Mas Alif untuk mulai toilet trainingnya????
Waktu teruuusss..ssss berjalan..sampai akhirnya, Mas Alif udah gede-an, ada saat dimana aku liat koq pampersnya tipiiiissss terus.. jarang pipis..Padahal aku pikir, minumnya cukup koq. Terus, pernah juga aku dapati, pampersnya malah kering gak ada pipisnya sama sekali waktu bangun pagi..Lho kok??
Beberapa hari setelah tanda-tanda itu berlalu, akhirnya aku mikir, mungkin sekarang kali yaa saatnya untuk toilet training..
Akhirnya dicoba lah..gak pake pampers..iseng Mas Alif aku bawa ke toilet..aku bilang, "yuk Mas..pipis dulu di kamar mandi.." cccuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.. akhirnya Mas Alif pun pipis. Dan sejak itu, kalau di rumah, Mas Alif sekarang udah nggak pernah pake pampers laagggiiiiiiii... *Bundabahagiasekaliiiii
Bunda seneng, bahagia, bangga..karena Mas Alif udah gak pakai pampers lagi kalau di rumah (waaahhhh..menghemat budget bangggeeeettttt...jjaaauuuuuuuuuuuhhhhhhhhhh..Lha wong pampersnya musti yang paling mahal..merek Pampers..krn itu yang terasa cocok dan nyaman buat Mas Alif).
Sekarang sih Mas Alif masih harus dibawa dulu ke kamar mandi supaya pipis..atau kalau Bunda kelamaan nggak bawa-bawa Mas Alif ke kamar mandi, ya ujung-ujungnya ngompol. hehehee..
Mudah-mudahan nggak lama lagi Mas ALif udah bisa bilang, "Bunda...mau pipis...".. Amin..
Jadi kesimpulannya..aku lebih prefer untuk tunggu tanda-tanda dari Mas Alif kapan dia siap untuk toilet training.. Salah satu tandanya, pipisnya di pampersnya waktu itu mulai sedikit.. kalau biasanya dalam 5 jam gak ganti pampers, pampersnya bisa tebbeeellllll.. nah sekarang, dalam 5 jam tanpa diganti, pampersnya tetep tippiiisss aja kayak baru 1x - 2x pipis.
Ini sharing dariku aja loh yaaa.. Kalau ada yang berpendapat lain, ya monggo.. hihihihiii..
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Sekarang ini Mas Alif gak kerasa umurnya hampir 21 bulan..dan udah dimulai toilet trainingnya sejak umurnya 20 bulan. Telat?? Menurutku nggak..
Dari awal memang aku nggak pernah tau, kapan sih waktu yang tepat untuk mulai toilet training? Ada yang bilang kalau udah bisa duduk, biasakan ajarin ke toilet..ada juga yang bilang, kalau udah umur 10 bulan..atau 1 tahun.. tapi saat aku cari referensinya di buku "The Baby Book"nya dr.Sears (buku itu selalu jadi acuan buatku..gimana nggak..yang nulis aja dokter anak profesional, istrinya perawat, anaknya 8, dan semua yang dia tulis di buku itu adalah hasil "penelitian" yang diterapkan ke 8 anak-anaknya. maknyuuussssss... Insya Allah hasilnya memuaskan. ;P), di buku itu nggak disebutin secara pasti berapa umurnya saat anak mulai belajar toilet training.
Beliau hanya sebutkan sejumlah tanda-tanda (bukankah kita harus bisa membaca tanda-tanda dari alam?? :-P) kapan anak siap dilatih toilet training..
Jadi waktu Mas Alif umur 10 bulan, aku udah siap beli bebek-bebekan yg buat toilet training..tp akhirnya..sampai sekarang bebek itu malah jadi mainan. hehehehee...
Waktu umur 10 bulan, aku udah sempet toilet training Mas Alif. Berdasarkan informasi dari temen-temen, katanya tiap 15 - 30 menit, bawa ke toilet biar pipis..Dicoba ddoooonnnggg.... Hiiyyaaahhh..ternyata oh ternyata...baaarrruuuuuuuuuu juga beberapa menit sebelumnya pipis, udah pipis lagi...gak sampe 15 menit. Ada juga udah tiap 15-30 menit dibawa ke kamar mandi supaya pipis, malah gak pipis...
Aaaarrggghhhh..daripada aku nya stress karena kecolongan terus (wkwkwkwkkk..Bunda dikerjain Mas Alif.), aku terusin pakein pampers aja Mas Alifnya. hehehheheee... --> bukan ibu pemalas yaaa.. tapi ibu yang cerdik..cerdik untuk nggak lagi dikerjain Mas Alif. hahahahaa..
Sambil itu..aku teruusss..bertanya-tanya dalam hati, kapan ya waktu yang tepat buat Mas Alif untuk mulai toilet trainingnya????
Waktu teruuusss..ssss berjalan..sampai akhirnya, Mas Alif udah gede-an, ada saat dimana aku liat koq pampersnya tipiiiissss terus.. jarang pipis..Padahal aku pikir, minumnya cukup koq. Terus, pernah juga aku dapati, pampersnya malah kering gak ada pipisnya sama sekali waktu bangun pagi..Lho kok??
Beberapa hari setelah tanda-tanda itu berlalu, akhirnya aku mikir, mungkin sekarang kali yaa saatnya untuk toilet training..
Akhirnya dicoba lah..gak pake pampers..iseng Mas Alif aku bawa ke toilet..aku bilang, "yuk Mas..pipis dulu di kamar mandi.." cccuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.. akhirnya Mas Alif pun pipis. Dan sejak itu, kalau di rumah, Mas Alif sekarang udah nggak pernah pake pampers laagggiiiiiiii... *Bundabahagiasekaliiiii
Bunda seneng, bahagia, bangga..karena Mas Alif udah gak pakai pampers lagi kalau di rumah (waaahhhh..menghemat budget bangggeeeettttt...jjaaauuuuuuuuuuuhhhhhhhhhh..Lha wong pampersnya musti yang paling mahal..merek Pampers..krn itu yang terasa cocok dan nyaman buat Mas Alif).
Sekarang sih Mas Alif masih harus dibawa dulu ke kamar mandi supaya pipis..atau kalau Bunda kelamaan nggak bawa-bawa Mas Alif ke kamar mandi, ya ujung-ujungnya ngompol. hehehee..
Mudah-mudahan nggak lama lagi Mas ALif udah bisa bilang, "Bunda...mau pipis...".. Amin..
Jadi kesimpulannya..aku lebih prefer untuk tunggu tanda-tanda dari Mas Alif kapan dia siap untuk toilet training.. Salah satu tandanya, pipisnya di pampersnya waktu itu mulai sedikit.. kalau biasanya dalam 5 jam gak ganti pampers, pampersnya bisa tebbeeellllll.. nah sekarang, dalam 5 jam tanpa diganti, pampersnya tetep tippiiisss aja kayak baru 1x - 2x pipis.
Ini sharing dariku aja loh yaaa.. Kalau ada yang berpendapat lain, ya monggo.. hihihihiii..
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Kapan Mulai MPASI ?
Waktu Mas Alif masih 4 bulan-an, aku seriiiiiiinnnggg bgt bertanya-tanya dalam hati, "Kapan ya waktu yang tepat buat MPASI? Kata dokter-dokter sih 6 bulan..tapi mereka tau dari mana kalau 6 bulan?" Ya pasti penelitian..tapi apa bener ?
Sambil berjalannya waktu, aku keinget sama kucing, karena dari kecil pelihara kucing. Induk kucing itu begitu lahiran, langsung kasih ASI buat anak-anaknya. Prosesnya sama aja seperti manusia. Full ASI, ASI+MPASI, proses penyapihan. Aku mikiiirrrr aja..gimana caranya si induk tau kapan waktunya si anak-anaknya dikasih MPASI ? Kan kucing gak ada yang jadi dokter (hihihihihiiii.. :D).
Sambil waktu teruuussss berlalu..sambil terruuusssss bertanya-tanya, "Induk kucing tau dari mana sih kapan anaknya musti dikasih MPASI??".. ternyata kuasa Allah SWT yaa...AKU TAU JAWABANNYA! Eureka!!!.. wkwkwkwkkk.. :P
Saat Mas Alif mulai masuk usia 5 bulan, aku liat koq tiap kali ada orang di sekitar Mas Alif makan, Mas Alif pandangannya itu loohhhh.. pandangannya ngileeeeerrrrrrrrrr banget..ngiler pengen makan juga..kalau bisa ngomong, minta kaleeee... hihihihii..
Waktu itu masih aku tahan-tahan belum kasih MPASI..akhirnya setelah 1 minggu "observasi", baca buku "The Baby Book" yang karangan Dr. Sears, dan ngikutin feeling, Mas Alif dimulai deh MPASInya di usia, kalau nggak salah, 5 bulan lebih 1 minggu. Memang sih..anjuran dokter kan 6 bulan..tapi aku ngikutin feeling aja..ngikutin feeling dan liat "sinyal" dari Mas Alif. Lagipula, di buku "The Baby Book" yang karangan Dr. Sears itu, memang dibilangnya, saat bayi siap diberi MPASI, bayi itu akan berikan sinyal-sinyal ke orang tuanya. Dan salah satu sinyalnya ya itu.. ngiler tiap kali ngeliat orang lain makan.
Ini pengalaman dan keyakinanku loh yaa..buat temen-temen yang tetep mau 6 bulan teng baru MPASI, ya monggoooooo.. hehehee.. :-P
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Bekerja Di Rumah, Mengapa Tidak?
Ada sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan masak-masak sebelum memutuskan untuk mulai bekerja di rumah. Pertimbangan apa sajakah itu?
Bila mulai berpikir untuk bekerja di rumah, ada baiknya Anda memiliki konsep bagus tentang bagaimana sebaiknya bekerja di rumah. Anda mungkin membayangkan, tak perlu lagi bangun pagi di jam tertentu, sarapan terburu-buru, duduk di ruang kerja, dan memulai pekerjaan dengan ceria.
Tetapi, pada kenyataannya tak selalu seindah yang dibayangkan, lho! Biasanya, seseorang justru harus bekerja lebih keras bila ia menekuni bisnisnya di rumah, dibandingkan bila bekerja di suatu perusahaan.
Memang, sih, bekerja di rumah akan memberi banyak keuntungan. Salah satunya, yang mendasari para ibu memilih menjalankan bisnis di rumah, adalah bisa dekat dengan anak. Nah, berikut ini sejumlah hal yang harus dipertimbangkan sebelum Anda mengambil keputusan bekerja di rumah.
1. Berapa Penghasilan Yang Diharapkan?
Sesudah menuliskan jumlah penghasilan yang diharapkan, tulis pekerjaan yang akan dilakukan di rumah dengan estimasi jumlah penghasilan yang akan diperoleh. Jangan lupa, perhitungkan pula tagihan telepon, listrik, dan peralatan lain yang digunakan jika memutuskan bekerja di rumah.
Sesudah menuliskan jumlah penghasilan yang diharapkan, tulis pekerjaan yang akan dilakukan di rumah dengan estimasi jumlah penghasilan yang akan diperoleh. Jangan lupa, perhitungkan pula tagihan telepon, listrik, dan peralatan lain yang digunakan jika memutuskan bekerja di rumah.
Lalu, bandingkan jumlah penghasilan tadi dengan jumlah penghasilan bila Anda bekerja di suatu perusahaan, sesuai dengan bidang yang dikuasai, lalu dikurangi uang transportasi dan uang makan yang harus Anda keluarkan.
2. Masih Perlukah Tambahan Fasilitas?
Pada umumnya, bekerja di rumah tak ada "benefit" seperti asuransi kesehatan atau asuransi jiwa. Namun, tentu saja ada beberapa pengecualian.
Pada umumnya, bekerja di rumah tak ada "benefit" seperti asuransi kesehatan atau asuransi jiwa. Namun, tentu saja ada beberapa pengecualian.
3. Pekerjaan Yang Tersedia
Bila dipekerjakan sebagai tenaga lepas misalnya, Anda harus mengerti, perusahaan yang pemberi pekerjaan tak wajib selalu memberi pekerjaan. Ada masa sibuk dan masa tenang.
Bila dipekerjakan sebagai tenaga lepas misalnya, Anda harus mengerti, perusahaan yang pemberi pekerjaan tak wajib selalu memberi pekerjaan. Ada masa sibuk dan masa tenang.
Selama masa sibuk, mungkin Anda akan bekerja sampai 40-50 jam per minggu dan pada masa tenang hanya bekerja 10 jam per minggu. Bila penghasilan menjadi sangat penting bagi kebutuhan rumah tangga, Anda harus betul-betul menyadari hal ini.
Mungkin karena faktor itu pula, banyak orang memilih bekerja lebih dari satu jenis pekerjaan di saat yang sama, karena bila pekerjaan yang satu sedang tidak padat, mereka dapat mengerjakan proyek/ pekerjaan lainnya.
4. Apa Yang Memotivasi?
Bila Anda termasuk tipe orang yang selalu harus diberi dukungan dan dorongan, maka bekerja di rumah akan terasa sangat sulit. Anda harus betul-betul disiplin pada pekerjaan. Apalagi di rumah, Anda akan menghadapi banyak godaan.
Bila Anda termasuk tipe orang yang selalu harus diberi dukungan dan dorongan, maka bekerja di rumah akan terasa sangat sulit. Anda harus betul-betul disiplin pada pekerjaan. Apalagi di rumah, Anda akan menghadapi banyak godaan.
Jadi, sikap disiplin, konsisten, dan fokus pada jadwal dan jam kerja yang telah ditentukan sendiri, harus ditaati. Persis seperti bila Anda bekerja di suatu perusahaan.
5. Keberatankah Dengan Suasana Sunyi?
Suasana bekerja di rumah tak sama dengan suasana bila bekerja di suatu perusahaan yang memiliki banyak pegawai. Bekerja di rumah, bila tak bekerja sendiri, paling hanya dibantu 1-2 asisten. Bila Anda biasa bergaul dan tak tahan dengan rasa sepi, bekerja di rumah akan terasa sulit dan menyiksa.
Suasana bekerja di rumah tak sama dengan suasana bila bekerja di suatu perusahaan yang memiliki banyak pegawai. Bekerja di rumah, bila tak bekerja sendiri, paling hanya dibantu 1-2 asisten. Bila Anda biasa bergaul dan tak tahan dengan rasa sepi, bekerja di rumah akan terasa sulit dan menyiksa.
Tak mudah bagi Anda untuk menyesuaikan diri. Namun, walau bagaimanapun, Anda bisa tetap menjalin hubungan dengan teman-teman dan bertemu secara berkala. Bisa juga chatting dengan teman-teman melalui internet.
6. Fleksibilitas
Ada perusahaan yang meminta pegawainya bekerja sesuai jam kerja yang sudah ditentukan, tetapi ada juga yang lebih fleksibel dan mau menerima jam kerja yang Anda tawarkan, sebagai freelancer. Anda yang harus menentukan, tipe jam kerja seperti apa yang cocok bagi Anda. Pertimbangkan yang terbaik bagi Anda.
Ada perusahaan yang meminta pegawainya bekerja sesuai jam kerja yang sudah ditentukan, tetapi ada juga yang lebih fleksibel dan mau menerima jam kerja yang Anda tawarkan, sebagai freelancer. Anda yang harus menentukan, tipe jam kerja seperti apa yang cocok bagi Anda. Pertimbangkan yang terbaik bagi Anda.
7. Penitipan Anak
Banyak kaum ibu ingin bekerja di rumah agar dapat memperhatikan anak sehingga tak perlu menitipkan anaknya di tempat penitipan anak. Padahal, bekerja di rumah dengan anak yang masih balita tidaklah mudah, karena perhatian Anda akan terbagi antara pekerjaan dan anak. Tetapi semuanya tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Semakin besar usia anak, semakin mudah bagi Anda untuk bekerja di rumah.
Banyak kaum ibu ingin bekerja di rumah agar dapat memperhatikan anak sehingga tak perlu menitipkan anaknya di tempat penitipan anak. Padahal, bekerja di rumah dengan anak yang masih balita tidaklah mudah, karena perhatian Anda akan terbagi antara pekerjaan dan anak. Tetapi semuanya tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Semakin besar usia anak, semakin mudah bagi Anda untuk bekerja di rumah.
8. Pilih Pekerjaan Yang Disukai
Hal ini sangat penting! Mungkin saat ini Anda merasa tak penting dengan jenis pekerjaan, sejauh mendapatkan uang. Percayalah, hal ini tak akan bertahan lama. Untuk bekerja di rumah, yang Anda perlukan adalah selalu memiliki motivasi dan disiplin diri yang besar, ditambah jenis pekerjaan yang Anda sukai!
Hal ini sangat penting! Mungkin saat ini Anda merasa tak penting dengan jenis pekerjaan, sejauh mendapatkan uang. Percayalah, hal ini tak akan bertahan lama. Untuk bekerja di rumah, yang Anda perlukan adalah selalu memiliki motivasi dan disiplin diri yang besar, ditambah jenis pekerjaan yang Anda sukai!
Anda harus menyadari, termasuk tipe bagaimanakah Anda untuk tipe pekerjaan yang cocok. Apakah Anda kreatif atau pekerja keras? Cari tahu visi Anda tentang bekerja di rumah dan temukan pekerjaan yang sesuai.
9. Apakah Memang Ingin "Bekerja"?
Bila seseorang mengatakan ingin bekerja di rumah, berarti ia tak menginginkan pekerjaan tetap dan tak mau terikat. Yang mereka inginkan adalah kebebasan untuk mengatur jadwal dan jam kerja, serta melakukan pekerjaan yang memang disukai.
Bila seseorang mengatakan ingin bekerja di rumah, berarti ia tak menginginkan pekerjaan tetap dan tak mau terikat. Yang mereka inginkan adalah kebebasan untuk mengatur jadwal dan jam kerja, serta melakukan pekerjaan yang memang disukai.
Tentu saja tak ada yang tak mungkin. Demikian pula dalam menemukan jenis pekerjaan seperti yang diinginkan. Namun, hal ini tak semudah yang dibayangkan. Pertimbangkan untuk memulai usaha sendiri dengan memusatkan talenta dan kemampuan. Bila pengetahuan Anda mengenai wiraswasta belum memadai, mulailah dalami. Anda bisa tnemukan sumbernya dari internet, buku, seminar, atau orang yang berpengalaman.
Tanpa melihat jenis pekerjaan yang Anda tentukan, yang harus dipahami, bekerja di rumah tidaklah semudah yang dibayangkan dan juga sangat menantang. Tetapi, banyak yang telah melakukannya mengatakan, bekerja di rumah cukup menyenangkan. Nah, bila artikel ini memberi kesan bekerja di rumah mungkin tak cocok bagi Anda, jangan lupa bila Anda bisa saja berubah pikiran.
Bila tak terlalu termotivasi, sebaiknya pelajari dan cari tahu apa sebabnya. Berikan tantangan pada diri sendiri setiap hari dan perkuat disiplin diri. Bila kemauan cukup kuat, yakinlah Anda pasti dapat merealisasikannya. Jangan pernah menyerah pada impian Anda!
Dari : Tabloid NOVA
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Salam,
Herni Ardiani
YM : diani_122
FB : Herni Ardiani Rendy
Twitter : @herniachfan
Telp : +62 8111 881 772
Langganan:
Postingan (Atom)